Untuk terus mengembangkan pengobatan virus Covid-19, WHO mengumumkan bahwa saat ini ilmuwan sedang mengembangkan vaksin Covid-19 tanpa jarum suntik. Terdapat enam dari delapan pengembangan imunisasi yang telah siap untuk ditinjauh lebih lanjut pada akhir tahun 2021 mendatang.
Foto : detik.com

INFOSAWANGAN.COM - Di Australia, para ilmuan akan memulai uji coba tahap 1 dari vaksin Covalia serentak di 3 tempat yaitu Scientia Clinical Research di Sydney, Telethon Kids Institute di Perth dan Women's and Children's Hospital di Adelaide yang menggunakan metode tembak atau tanpa disuntik.

Vaksin ini berbasis gen menggunakan sekuens DNA virus SARS-CoV2. Dilansir dari News.com Australia, Selasa (29/6/2021) vaksin ini tidak memakai suntikan, melainkan jet spray atau semprotan bertekanan tinggi. Saat disemprot dengan tekanan tinggi, vaksin akan menembus ke dalam kulit. Vaksin akan diserap sel tubuh. Kode DNA akan menghasilkan protein yang memicu imunitas tubuh.

Menurut Chief Scientist World Health Organization (WHO), Soumya Swaminathan, ada enam hingga delapan vaksin yang akan siap ditinjau pada akhir tahun ini, beberapa di antaranya tidak memerlukan jarum suntik dan dapat disimpan dalam suhu ruangan antara 20-25 derajat celcius.

Vaksin Covid-19 tanpa jarum ini dimasukkan dalam tubuh melalui pemberian oral, hidup dan tambalan kulit, metode yang lebih cocok bagi kelompok tertentu seperti wanita hamil, ujar Soumya Swaminathan, melansir Fox News.

Wah, gimana ya cara vaksin masuk ke dalam tubuh? 

Vaksin dimasukkan dengan cara ditembak ke kulit menggunakan injector jet yang dirancang untuk memastikan vaksin masuk ke dalam sel tubuh. Dalam uji coba diharapkan vaksin corona semprot ini dapat memicu respons imun.

Meskipun tidak disetujui studi penelitian luar di Australia, perangkat bebas jarum ini sudah digunakan untuk memberikan vaksin influenza di Amerika Serikat.

Melansir 9news, uji coba Fase 1 akan melibatkan 150 relawan, dengan melakukan penyaringan dan pendaftaran peserta.

Tujuan utamanya adalah untuk memeriksa keamanan dua dosis vaksin yang diberikan dalam jarak satu bulan. Jika uji coba pada 150 orang berhasil, maka uji coba fase 2 yang lebih besar akan dilakukan. Uji coba juga akan melihat apakah dosis vaksin lebih rendah dapat bekerja lebih baik setelah vaksinasi.


Penulis: Insani Putri Purwita

Editor: Risma Ayu A.