Sebagai mahkluk yang memiliki moralitas, manusia cenderung memnolong manusia lainnya jika terlibat dalam sebuah masalah. Semakin banyak manusia, semakin banyak juga yang menolong, namun kenyataannya situasi tersebut malah menimbulkan bystander effect (efek pengamat).
Ilustarasi oleh Willy A.

INFOSAWANGA.COM - Bystander effect adalah suatu fenomena psikologi sosial dimana kehadiran orang lain membuat seseorang enggan membantu seseorang yang sedang dalam situasi darurat, seperti kecelakaan, terintimidasi, penyerangan, pencopetan, dan situasi kejahatan lainnya. Fenomena tersebut berpeluang besar jika semakin besar jumlah pengamat (bystander), maka semakin kecil kemungkinan salah satu dari mereka yang akan membantu seseorang yang sedang dalam kesulitan.

Alasan mengapa bystander effect Terjadi adalah karena saat disituasi kritis yang ramai, orang-orang cenderung enggan membantu korban dari situasi kritis tersebut, dikarenakan mereka beranggapan bahwa akan ada orang lain yang membantu, tetap karena mereka berpikiran yang sama, pada akhirnya mereka hanya akn menjadi pengamat (bystander effect), ini adalah difusi tanggung jawab. Ketidak tahuan tentang cara menangani korban juga salah satu fakto mengapa bystander effect terjadi.

Dibalik rasa enggan membantu, ada alasan mengapa pengamat (bystander) melakukan hal tersebut. Rasa enggan tersebut timbul karena mereka tidak mau merasa dirugikan akibat dari situasi kritis tersebut, seperti ikut menjadi korban, menjadi tersangka, dan hal merugikan lainnya. Pada akhirnya mereka memilih untuk acuh pada korban terlebih orang tersebut adalah orang asing.

Seperti contoh kasus di New York tahun 1964 terhadap seorang perempuan 28 tahun, Kitty Genovese. Dikala itu dia menjadi korban penusukan di depan apartemntnya sendiri, namun aneh 38 tetangga yang berada digedung apartement tersebut tidak ada yang menolongnya meskipun suara teriakan kitty terdengan jelas. Awalnya kejadia tersebut dianggab normal, namun setelah topik ini dianggkat oleh seorang wartawan bernaman Martin Gansberg di koran New York Times, akhirnya kejadian ini medapat perhatian dan menjadi sebuah kajian oleh Seorang psikolok yang menciptakan istilah ini, yaitu John M Darley dan Bib LatanE.

Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, apakah fenomena ini bisa dihindari. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah bisa, terggantung seberapa kuat niatan seseorang untuk mebantu korban. Ada beberapa cara yang bisa dijadikan proteksi terhadap bystander effect, seperti menubuhkan rasa empati dan simpati, menghubungu piak yang dapat membantu (ambulan,polisi,dll) jika tidak tahu caranyanya menbantu, belajar tata cara menolong orang (seperti CPR misalnya), ajak untuk tidak orang bersikap apatis, berinisiatf membantu disaat orang lain hanya menjadi pengamat (bystander) hal ini bisa menjadi obat karena bystander effect seperti domino saat ada yang menolong, yang lain pun akan ikut menolong.

Intinya sebagai manusia yang mempunyai rasa empati dan simpati, alangkah baiknya gunakan anugrah tersebut untuk menghilangkan bystander effect ini demi keselamatan bersama.



Sumber Refrensi :

hallosehat.com (Diakses pada desember 2021). Bystander Effect, Ketika Orang Hanya Menonton Kecelakaan Bukannya Membantu.

psychologytoday.com (Diakses pada desember 2021). Bystander Effect.