Dubai memiliki anjing pelacak yang bekerja di bandaranya yang dapat mengidentifikasi orang yang terinfeksi Covid-19 dengan tingkat keberhasilan 98,2 persen
https://www.kompas.com/sains/read/2021/05/27/090300823/anjing-pelacak-bisa-mengendus-covid-19-hasil-hampir-90-persen?page=all

INFOSAWANGAN.COM - Dubai butuh waktu selama setahun untuk studi pertamanya tentang penggunaan anjing untuk mendeteksi Covid-19.

Sabtu, 18 September 2021, polisi Dubai melatih sekelompok anjing, yang meliputi German Shepherds, Labrador,Cocker Spaniels, dan Border Collies, untuk mengenali aroma Covid-19. Aromater sebut dikenali dengan menggunakan sampel keringat dari orang-orang dengan infeksi yang dikonfirmasi, dikumpulkan dengan memegang swab di ketiak selama beberapa menit.

"Keringat tersebut dimasukkan ke dalam toples - memiliki aroma pasien - kemudian kami mengeluarkan sampel untuk dihirup anjing. Ketika dia memberi kami tanda, kami memberinya hadiah," kata Letnan Satu Nasser al-Falasi dari polisi Dubai, pengawas program di pusat pelatihan K9 di wilayah Awir Dubai.

Di aula pelatihan besar di pusat itu, pawang polisi mengantar anjing-anjing itu di sepanjang deretan kotak logam, di mana hanya satu yang berisi sampel positif. Anjing-anjing mengendus sampel dan dalam beberapa detik duduk untuk memberi sinyal bahwa mereka telah menemukan sesuatu.

Pelatih polisi Fatima al-Jasmi berada di tim deteksi Covid-19. Ia memandu Border Collie hitam putih yang tampak bersemangat berlatih, melakukannya dengan benar setiap saat. Dia berkata, pelatihannya sedikit menantang, mempelajari keterampilan baru dengan standar internasional.

Studi yang diadakan di Dubai, yang diterbitkan pada Juni 2021 di Communications Biology, bagian dari jurnal ilmiah Inggris Nature. Penelitian itu menyimpulkan bahwa penggunaan anjing untuk mendeteksi Covid-19 tingkat keberhasilan deteksi 98,2 persen.

Permintaan Pelatihan

Penelitian ini menggunakan sampel keringat dan tes PCR dari 3.290 orang untuk membandingkan kemampuan deteksi anjing. Falasi mengatakan anjing-anjing itu saat ini melakukan sekitar 30-40 tes sehari di bandara.

Bolt, seekor Belgian Malinois hitam dan cokelat, adalah anjing pendeteksi Covid-19 pertama yang ia latih. "Dia sering pergi tugas. Mungkin sudah lebih dari 1.000 tes COVID-19," kata Falasi bangga.

Anjing-anjing itu terutama digunakan di bandara di seluruh UEA, tapi anjing tersebut juga siap digunakan di mana pun jika diperlukan. Dubai telah menerima permintaan dari seluruh dunia untuk berbagi pengetahuan tentang cara melatih anjing untuk mengendus Covid-19, kata Mayor Polisi Dubai Salah Khalifa al-Mazroui.

Polisi Dubai juga memiliki anjing yang dilatih untuk mengendus obat-obatan dan bahan peledak. Keterampilan tersebut akan digunakan saat emirat Dubai bersiap untuk membuka pameran Dubai Expo 2020 bulan depan.

Negara Lain

Beberapa negara lain, termasuk Finlandia, Amerika Serikat, dan Prancis, telah menjalankan pelatihan anjing mereka sendiri dan uji coba deteksi anjing Covid-19. Bandara Internasional Miami (MIA) jadi bandara di AS yang pertama yang menggunakan anjing untuk mendeteksi Covid-19.

Anjing pendeteksi tersebut bernama Cobra dari Belgia dan One Betta dari Belanda. Mereka dilatih secara khusus oleh Global Forensic and Justice Center (GFJC) di Florida International University (FIU), seperti dilansir dari laman Travel and Leisure.

Kedua anjing tersebut saat ini ditempatkan di pos pemeriksaan keamanan karyawan American Airlines. Covid-19 ternyata dapat diendus karena virus tersebut menyebabkan perubahan metabolisme pada seseorang yang mengakibatkan produksi senyawa organik volatil (VOC).

Dapat melacak 300 orang dalam setengah jam Para ilmuwan mengatakan pelacakan dengan anjing dan disertai dengan tes usap, hasil deteksi Covid dapat mencapai 98,2 persen. 

Hal lain yang menguntungkan adalah kecepatan. Tes paling cepat untuk virus corona memerlukan 15 menit sampai ada hasil, sementara endusan anjing untuk suatu penyakit hanya memerlukan beberapa detik.

Dua anjing dapat melacak 300 orang penumpang pesawat dalam waktu setengah jam, menurut para peneliti. Anjing-anjing ini dapat digunakan untuk metode skrining massal, menurut Prof James Logan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, yang melakukan penelitian bersama Universitas Durham.


Sumber : m.liputan6.com