Bayangkan di hadapan kita terdapat meja dengan berbagai menu makanan lezat siap santap. Dengan banyak menu makanan tersebut, kita mungkin berpikir bahwa banyaknya pilihan makanan tersebut membuat kita lebih bahagia, Namun faktanya tidak seperti apa yang kita pikirkan.
Illustrasi oleh Willy A.

INFOSAWANGAN.COM - Banyaknya pilihan tidak menjamin bahwa akan berbanding lurus dengan kebahagiaan karena semakin banyaknya pilihan akan semakin membuat kita bingung terhadap pilihan yang akan kita ambil. Dari perasaan bingung tersebut bisa berujung pada kegagalan memilih yang berakhir dengan penyesalan, inilah Paradox of choice.

Secara teknis Paradox of Choice atau Paradoks pilihan merupakan Sebuah teori yang diperkenalkan oleh seorang penulis dan peneliti, Barry Schwartz, dalam sebuah buku berjudul "The Paradox of Choice" yang inti isi dari buku tersebut menjelaskan bahwa terlalu banyak malah membatasi kebebasan seseorang.

Paradoks pilihan ini tidak hanya terjadi saat kita ingin berbelaja, memilih menu makanan di restauran, ataupun memilih pakaian di lemari. Hal tersebut juga terjadi di kehidupan sosial, seperti menetukan karier, menentukan bakat dan minat, bahkan sampai menentukan jati diri sendiri.

Kebahagiaan diatas banyaknya pilih adalah sebuah kekeliruan. Waktu yang singkat utuk fokus terhadap pilihan yang tidak sebanding dengan banyaknya pilihan menciptakan jarak kita dengan kebahagiaan. sehingga kemapuan menentukan pilihan menjadi satu-satunya cara yang dipakai untuk meperoleh rasa kebahagiaan tersebut, namun hal ini bisa menjadi sebaliknya. Pilihan yang salah menjadi kegagalan dalam menentukan pilihan, ini berakibat terhadap mental seperti setres bahkan depresi.

Adapun cara yang di anjurkan Barry untuk memandu kita dalam menentukan pilihan.

Pertama, ketahui tujuan atau sasaran. Kedua, evaluasi atau koreksi pentiknya tiap tujuan. Ketiga, Susun piliha-pilihan yang mendukung tujuan. Keempat, Prioritaskan pilihan dari susunan pilihan tersebut yang paling mendukung tujuaan. Kelima, pilihlah winning options atau pilihan yang telah dipilih bedasarkan prioritas kepentingan untuk tujuan. Yang terakhir, modifikasi pilihan tersebut yang berguna untuk menyesuaikan terhadap tujuan yang kita ini capai

Contohnya seperti kita ingin membeli makanan di restoran, kita melihat banyaknya menu yang terlihat sama-sama enak. Untuk menghindari kebingungan dan kesalahan dalam memilih, buatlah sebuah tujuan seperti ketika kita ingin memakan sesuatu yang tidak mengandung daging, buatlah daftar dari menu restoran tersebut yang mekai sayuran. Dari banyaknya menu makanan berbahan sayuran, pilih lah satu yang paling sesuai dengan kebutuhan da tujuan mu. Setelah sudah memutuskan menu yang dipilih, mintalah kepada pelayan untuk mengurangi atau menambahkan sesuatu pada menu makanan ang kamu pilih, ini lah tahap modifikasi. Dengan melakukan cara diatas, meskipun terlihat tidak efisien, tapi pada kenyataanya itu salah salah satu cara efisien dalam memperoleh kebahagiaan dalam memilih sesuatu.

Ingat, Prioritaskanlah pilihan kita atas dasar kebutuhan, bukan karena keinginan kita semata.



Sumber Refresnsi :

indopositive.org (diakses pada november 2021). Paradox of Choice : Why More Is Less.

gostrengths.com (diakses pada november 2021). What Is Paradox of Choice.