Terganggunya kesehatan mental sering kali menjadi krikil dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dampak negatif dari kesehatan mental yang buruk salah satunya adalah fluktuasi emosi yang tidak stabil yang menyebabkan penderitanya kehilangan gairah dalam melakukan kegiatan sehari-hari hingga berujung pada depresi. Banyak yang sudah berusaha untuk meminimalisir dampak tersebut namun rasanya sangat sulit, terlebih stigma-stigma yang memperparah, ini juga lah dialami oleh seorang bipolar.
Illustratsi oleh Willy A.

INFOSAWANGAN.COM - Bipolar atau Manik Depresif adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, serta kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Pengidap bipolar akan berada pada periode perilaku yang sangat gembira atau bersemangat menjadi sangat sedih atau seperti putus asa.

Seseorang yang mengidap bipolar akan mengalami dua fase. Fase yang pertama adalah fase mania (naik) dimana seseorang akan merasa sangat bersemangat dan gembira serta ditandai dengan cara bicara yang mengebu-gebu. Sedangkan pada fase kedua, yaitu fase depresi (turun) pengidapnya akan telihat sangat murung serta lesu dan ditandai dengan hilangnya gairah dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Di lain sisi, ada kasus dimana seorang pengidap bipolar akan mengalami kondisi perputaran fase yang cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya tanpa adanya periode normal (rapid cycling). Selain itu, ada juga pengidap yang mengalami mania dan depresi diwaktu yang sama, dimana penderi akan merasa berenergik secara bersamaan merasakan kesedihan (mixed state).

Seperti pada umunya setiap masalah pasti ada akibatnya. Pada kasus bipolar belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, namun para ahli berpendapat bahwa kondisi ini disebabkan oleh ketidak seimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Neurotransmitter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi. (Wikipedia)

Bipolar tidak sama dengan depresi, meskipun memiliki gejala yang mirip penderita bipolar akan merasakan merubahan suasan hati yang lebih ekstrim dari naik ke turun atau sebaliknya. Untuk itu perlu adanya diagnosis lanjut karena bipolar memiliki gejala yang mirip dengan beberapa kondisi seperti penyakit tiroid ataupun penyalah gunaan NAPZA. Pengidap biasanya akan dirujuk ke psikiater untuk diamati dari pola berbicara, berpikir, bertindak dan serangkaian wawancara hingga akhirnya psikiater dapat mengklasifikasi kondisi seseorang.

Jika seseorang sudah terlanjur mengidap bipolar biasanya akan diberikan obat-obatan serta terapi psikologis guna meminimalisir frekuensi terjadinya fase-fase mania dan depresi. selain itu memperperbaiki pola hidup berguna dalam mengobatan maupun pencegahan dari bipolar, namun jika sudah merasakan insomnia parah, mengalami fluktuasi (turun naik) mood dalam jangka waktu panjang, merasa mudah marah dan agresif, bahkan sampai mempunyai keingginan bunuh diri. Segeralah temui dokter untuk diberikan penanganan lebih lanjut.

Terganngunya kesehatan mental bukanlah pertanda kita harus sembunyi dari lingkungan sosial, melaikan sebuah pertanda bahwa kita membutuhkan bantuan. Jangan takut ataupun malu untuk meminta pertolongan saat keadaan mental mulai terganggu karena itu bkan sebuah "Aib" yang harus disembunyikan.


Penulis: Willy Alfebniana

Editor: Risma Ayu A.